Setelah berhari-hari kita mendengar berita tentang Palestina, dari jumlah korban yang terus berjatuhan baik di pihak sipil, militer, pria, wanita, anak-anak, lansia, dan korban jatuh terbanyak berada di pihak Palestina. Cuplikan gambar, suara, serta tulisan yang sangat tragis, memilukan, dan sekaligus menimbulkan rasa marah terus kita tonton, baca, dan dengar dari media informasi seperti media cetak, radio, dan televisi menyiarkan krisis kemanusiaan yang terjadi di Palestina.
Puluhan pertanyaan pun muncul dalam benak saya :
“…kenapa dengan dunia ini? Kenapa dunia hanya berkutat dengan diplomasi yang berbelit, tanpa ada hasil nyata dalam menanggulanginya? Apakah mereka sadar, ketika waktu berjalan setiap hari, jam, menit, serta detik, korban terus berjatuhan, dan mereka hanya sibuk berdebat di meja perundingan yang semu itu?
Kenapa tata aturan yang dibuat susah payah di meja diplomasi seperti resolusi PBB, hanya menjadi secarik kertas yang mudahnya diinjak-injak serta dilanggar? Mengapa dengan mudahnya sebuah kelompok tentara menyerang kelompok lainnya yang secara jumlah dan kekuatan militer sangat jauh berbeda? Kenapa pejuang kemerdekaan Palestina dituduh teroris dan sedangkan tentara Israel dijuluki sebagai penjajah? Mana kekuatan dari sebuah piagam yang diagungkan seperti piagam hak asasi manusia yang menjadi aturan kita untuk hidup “bermanusia”? Apa gunanya sebuah maha lembaga bernama PBB yang seharusnya bertugas menjaga perdamaian?
Mengapa perang tak hentinya berkecambuk di kawasan tersebut? Apa sebenarnya permasalahan yang ada di kawasan tersebut? Motif agama? Motif perebutan wilayah Negara? Kenapa krisis Palestina tersebut terus berlarut-larut terjadi bertahun-tahun? Lalu kenapa superpower seperti Amerika Serikat begitu kukuhnya membela Israel? Mengapa Negara-negara Arab sepertinya hanya berpangku tangan dan tidak bergerak secara nyata dalam menyelamatkan saudara mereka di Palestina saat ini?
Apa yang bisa kita lakukan sebagai seorang manusia yang cinta perdamaian dan bersifat welas asih terhadap sesama, untuk membantu meringankan beban penderitaan serta mewujudkan perdamaian abadi di Palestina? ….”
Itu pertanyaan terakhir yang ada di pikiran saya setelah melihat, membaca, serta mengikuti krisis yang terjadi di Palestina tersebut beberapa hari terakhir ini.

aksi solidaritas palestina - Priyombodo
[Foto : http://images.kompas.com/detail_news.php?id=14730 - Priyombodo]
Bagi saya, selaku seorang orang biasa yang tinggal di Indonesia, saya pada awalnya hanya bisa mendoakan demi keselamatan serta mendoakan untuk memperingankan beban penderitaan para korban serta penduduk Palestina. Pencarian jawaban atas pertanyaan diatas berawal ketika memperhatikan ceramah seorang ustadz ketika menunaikan ibadah sholat Jumat, di sebuah masjid di bilangan Kuningan, Jakarta. Di ceramah tersebut, sang ustadz mengawali dengan kisah ketika zaman Rasullullah SAW pada masa awal berhijrah di Madinah, dimana penduduk kota tersebut terpecah dalam beberapa kelompok yang sebagian besar dipisahkan karena berbeda suku yang didasarkan pada ikatan keluarga. Perpecahan serta permusuhan penduduk Madinah tersebut telah terjadi bertahun-tahun, serta telah mengakar dalam setiap orang dalam setiap suku, bahwa mereka bermusuhan dengan suku yang lain, dan doktrinisasi mengenai permusuhan antar suku tersebut pun terjadi dari bertahun-tahun, dari golongan tua ke golongan muda, hingga ke anak-anak mereka, serta dari para pemimpin suku ke para bawahan dan pengikut serta rakyatnya.
Permusuhan antar suku tersebut nampaknya tidak akan terselesaikan dan bahkan telah menjurus ke bentrokan fisik, karena permusuhan tersebut sudah pada titik nadir dan telah mengurat nadi dalam tempo lama. Melihat permasalahan tersebut, Rasullullah SAW berinisiatif mengumpulkan para tetua dan para pemimpin suku yang bertikai di Medinah untuk melakukan sebuah pertemuan di rumah beliau dengan membawa misi perdamaian. Di pertemuan tersebut, sindiran, ocehan, cacian, serta kemarahan, serta aura kebencian terpancarkan di awal pertemuan antar suku tersebut. Dalam pertemuan tersebut, Rasullullah SAW bertanya satu persatu kepada para tetua dan para pemimpin suku yang saling bertikai tersebut, mengenai awal penyebab dari permusuhan tersebut, dan sebagian besar memberikan jawaban yang kabur, bias, dan tidak jelas, dan ada pula yang mengelak memberi jawaban, bahkan hanya kata-kata makian yang banyak terucap Dari pertemuan tersebut atas mediasi Rasullullah SAW, diketahui awal mulanya terjadi permusuhan tersebut, yaitu berawal dari masalah mengenai perjodohan dan masalah tapal batas pertanahan.
Dari ilustrasi diatas kita mendapat gambaran, bahwa terkadang kita terbawa dengan aura kebencian, dendam, serta kemarahan dengan pihak lain, dan justru melupakan inti permasalahannya. Seperti ilustrasi diatas, permusuhan tersebut telah terjadi dalam waktu yang cukup lama, hingga kebencian pun menumpuk serta mengurat nadi, serta dibumbui pula dengan provokasi dan doktrinisasi pada masing-masing kelompok, sehingga “para pengikut” dari kelompok tersebut bahkan hanya tahu harus memusuhi kelompok lawannya. Lalu dalam benak saya muncul pernyataan kembali :
“..Lah jelas Israel salah dan telah sewenang-wenang menyerang Palestina, dengan membunuh lebih dari 800 orang dan melukai lebih dari 1200 orang kok…”
Namun ketika mengobrol dengan teman-teman saya, muncul pertanyaan dan pernyataan seperti ini :
“..lo lupa ya? Palestina kan bukan sebuah negara formal yang merdeka kan? Buktinya tujuan utama organisasi Hamas dan Fatah menginginkan sebuah negara Palestina yang merdeka, dan secara jelas dalam pedoman perjuangan Hamas yang lebih radikal dibandingkan Fatah, yaitu menghapus negara Israel secara permanen, dan mendirikan negara tunggal Palestina, sehingga secara yuridis, negara dalam tanda kutip untuk Palestina sebenarnya tidak ada, Israel bisa saja berpegangan pada prinsip itu, maka mereka perlu melindungi warga negaranya dari serangan teroris, dan sesuai pemahaman mereka, mereka masuk ke wilayah Palestina dengan bebas, karena wilayah tersebut merupakan tanah tak bertuan, bener ga..??
Lalu muncul lagi pernyataan berikut : “…Lagian Hamas juga cari gara-gara juga? Wong lagi gencatatan senjata kok malah memperkuat diri dengan melatih dan membekali milisi dengan persenjataan, dan membom pemukiman Israel.. “
lalu teman lain menimpali : “..tapi Israel juga kurang ajar, seenaknya aja menggusur pemukiman Arab-Palestina, membangun tembok perbatasan kayak benteng Berlin hingga memblokade Palestina dari bantuan kemanusiaan dari pihak asing, sehingga seperti membunuh perlahan dengan memutus jalur logistik dan suplai makanan dan obat-obatan, serta menembaki dan membom daerah pemukiman Palestina, dengan dalih menghancurkan basis kekuatan militer milisi Palestina, dan telah membunuh penduduk sipil dengan sengaja!! Emang nyawa manusia kayak nyawa nyamuk yaa??..”
Hmm… lalu timbul pertanyaan kembali : “jadi apa inti permasalahan konflik palestina?”
saya berpendapat bahwa kebencian yang telah menumpuk bertahun-tahun tersebut telah membutakan segala hal, baik di sisi Palestina maupun Israel, dan jelas korban terparah dan yang paling menderita adalah warga Palestina, dan timbul keinginan warga Palestina (dan sebagian muslim diberbagai belahan dunia) untuk menghapuskan negara Israel dari peta dunia ini, dan memerdekakan Palestina.
Namun, jika melihat “cita-cita” tersebut, khusus untuk penghapusan negara Israel sangatlah sulit, baik dari sisi politik maupun dari sisi perang secara frontal, karena dapat menguras tenaga, biaya, dan waktu, (serta nyawa manusaia!!!), jika harus memerangi Israel yang didukung sepenuhnya oleh Amerika Serikat tersebut.
Pilihan lain yang lebih penting yaitu memerdekakan negara Palestina secara de facto dan dejure, sehingga konsistensi Palestina dapat terbukti secara nyata. Ide lain yaitu tetap dengan hidup berdampingannya kedua negara tersebut, baik Palestina dan Israel, dalam satu kawasan yang secara legal dan adil terbagi sesuai kesepakatan bersama, dengan syarat penghentian secara total aksi dan opsi militer dalam penyelesaian masalah antar kedua negara tersebut, dan lebih menonjolkan dialog konstruktif serta solutif untuk menyelesaikan segala aspek permasalahan.
Kembali ke pertanyaan tadi :
Apa yang bisa kita lakukan sebagai seorang manusia yang cinta perdamaian dan bersifat welas asih terhadap sesama, untuk membantu meringankan beban penderitaan serta mewujudkan perdamaian abadi di Palestina? ….”
Hingga saat ini, yang dapat saya lakukan hanya berdoa demi keselamatan ummat Islam sedunia, memberi sumbangan semampu saya melalui lembaga-lembaga sosial untuk Palestina, menyebarkan informasi tentang harapan perdamaian Palestina, dan yang paling penting yaitu bersyukur atas segala nikmat yang diberikan Allah Swt ke saya hingga saat ini, Alhamdulillah ya Allah!!